Surakarta, 5 Februari 2026 — Di bawah langit Sudiroprajan, aroma dupa dan lantunan doa bersahut-menerus mengawali sebuah tradisi panjang. Kamis (6/2), ritual Umbul Mantram resmi menjadi pembuka Grebeg Sudiro 2026, sebuah perayaan yang membuktikan bahwa di Surakarta, perbedaan etnis justru menjadi pengikat persaudaraan yang paling manis.

Lebih dari sekadar seremoni, Umbul Mantram adalah simbol rasa syukur warga Kampung Sudiroprajan atas keberagaman yang mereka rawat di sekitar Pasar Gede Hardjonagoro. Tahun ini menjadi tahun ketiga bagi Grebeg Sudiro masuk dalam jajaran elit Karisma Event Nusantara (KEN), sebuah pengakuan nasional atas konsistensi warga dalam menjaga warisan budaya.
Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), Agustin Peranginangin, yang hadir mewakili Kementerian Pariwisata, tampak terkesan dengan kerukunan yang tercipta. Baginya, Grebeg Sudiro adalah bukti nyata bahwa kekuatan budaya bisa menjadi mesin penggerak ekonomi yang luar biasa.
“Kita melihat bagaimana budaya bukan hanya soal masa lalu, tapi juga soal masa depan ekonomi warga. Event berbasis masyarakat seperti ini adalah kunci agar manfaat pariwisata benar-benar mendarat di meja makan para pelaku usaha lokal,” ujar Agustin.

Namun, ia juga memberikan catatan penting mengenai tanggung jawab lingkungan. Sejalan dengan semangat keberlanjutan, Agustin mengingatkan bahwa kemeriahan acara harus berjalan beriringan dengan kebersihan. “Kita ingin tamu yang datang pulang dengan kesan yang indah, bukan meninggalkan sampah. Inilah pariwisata yang bertanggung jawab,” tambahnya.
Grebeg Sudiro sendiri akan berlanjut dengan dua agenda utama: Sedekah Bumi dan Kirab Budaya. Di sana, gunungan kue keranjang dan hasil bumi akan diarak, menjadi rebutan warga yang percaya bahwa keberkahan datang dari berbagi.
Melalui Umbul Mantram dan Grebeg Sudiro, Sudiroprajan kembali mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: bahwa dalam harmoni, ekonomi tumbuh, dan dalam doa bersama, sebuah kota menemukan jiwanya.

Kepala Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Borobudur





