Yogyakarta, 7 Maret 2026 – Hujan yang turun pada Sabtu sore, tidak mengurangi semarak suasana di kawasan Pagelaran Keraton Yogyakarta. Bangsal Pagelaran dipenuhi tamu undangan dan masyarakat yang menyaksikan pembukaan Pameran Temporer Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Tingalan Jumenengan Dalem ke-37 Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Pembukaan pameran menghadirkan peragaan busana bertema “Buron Wana” yang merupakan interpretasi artistik terhadap hewan-hewan simbolik dalam tradisi Jawa.

Peragaan tersebut menampilkan dua belas figur hewan, yakni gajah, landak, bulus, naga, yuyu atau kepiting sungai, kluyu, turonggo atau kuda, kidang atau rusa, merak, macan, celeng, serta peksi atau burung.

Setiap figur ditampilkan melalui kostum yang dirancang dengan detail artistik yang memadukan unsur tradisional dan kontemporer. Pertunjukan tersebut semakin memikat dengan iringan lantunan a cappella dari Yogyakarta Royal Choir yang menghadirkan nuansa sakral sekaligus estetis di tengah atmosfer klasik Pagelaran Keraton.

Pameran Smarabawana secara resmi dibuka oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Raja Keraton Yogyakarta.

Pembukaan pameran ini memiliki makna khusus karena menjadi bagian dari rangkaian peringatan naik takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X yang ke-37. Momentum tersebut tidak hanya menjadi refleksi perjalanan kepemimpinan Sultan, tetapi juga menjadi sarana untuk menegaskan kembali nilai-nilai budaya yang menjadi fondasi Kasultanan Yogyakarta.

 

Dalam sambutannya, Sri Sultan menekankan bahwa sejak berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755, konsep tata ruang tidak pernah dipahami semata-mata sebagai persoalan teknis perencanaan kota.
“Tata ruang tidak sekadar berkaitan dengan aspek planologi atau arsitektur. Ia merupakan refleksi kosmologi kehidupan yang di dalamnya tercermin nilai, keyakinan, serta kebijaksanaan suatu peradaban,” ujar Sri Sultan.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tata ruang dalam tradisi Kasultanan Yogyakarta merupakan manifestasi dari pandangan hidup masyarakat Jawa yang memandang hubungan antara manusia, alam, dan dimensi spiritual sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Tata Ruang sebagai Manifestasi Filosofi Kehidupan

Konsep tata ruang Yogyakarta memiliki karakteristik yang unik karena tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan fungsional. Tata ruang tersebut juga mencerminkan struktur filosofis yang mendalam.
Dalam perspektif Sri Sultan, kota tidak hanya dipahami sebagai entitas geografis, tetapi sebagai ruang yang mencerminkan nilai-nilai peradaban manusia. Ia bahkan mengaitkan konsep tersebut dengan pemikiran filsuf Yunani kuno, Plato, yang menyatakan bahwa kota merupakan representasi dari jiwa manusia yang diperbesar dalam ruang.

Dengan demikian, tata kota Yogyakarta dapat dipahami sebagai representasi nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakatnya. Melalui tata ruang tersebut, masyarakat Jawa mengekspresikan pandangan hidup yang menempatkan manusia sebagai bagian dari keseimbangan kosmos.

Sumbu Imajiner dan Filosofi Sangkan Paraning Dumadi
Salah satu elemen penting dalam tata ruang Yogyakarta adalah keberadaan Sumbu Imajiner yang menghubungkan tiga titik utama, yaitu Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan Jawa.

Sumbu tersebut dikenal dalam filosofi Jawa sebagai Sangkan Paraning Dumadi, sebuah konsep yang menggambarkan perjalanan eksistensial manusia dari asal-usul hingga tujuan akhir kehidupannya.
Gunung Merapi melambangkan sumber kehidupan dan kekuatan alam, Keraton menjadi pusat keseimbangan antara manusia dan budaya, sedangkan Laut Selatan merepresentasikan dimensi spiritual yang penuh misteri.

Hubungan simbolik antara ketiga elemen tersebut menciptakan sistem kosmologi ruang yang khas dan menjadi dasar bagi penataan kota Yogyakarta sejak masa awal berdirinya Kasultanan.

Keunikan konsep tata ruang tersebut bahkan telah mendapatkan pengakuan internasional. Pada tahun 2023, UNESCO menetapkan The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks sebagai Warisan Dunia.

Smarabawana sebagai Konsep Ruang Kosmologis
Secara etimologis, istilah Smarabawana berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu smara yang berkaitan dengan rasa atau kesadaran, serta bawana yang berarti dunia atau jagad.

Dalam konteks budaya Jawa, istilah tersebut merujuk pada pemahaman ruang sebagai dunia yang dipersepsi melalui kesadaran manusia.
Konsep ini menempatkan ruang sebagai konstruksi dinamis yang tidak hanya terbentuk oleh struktur fisik, tetapi juga oleh relasi sosial, spiritual, dan kultural yang berkembang di dalamnya.

Dengan pendekatan tersebut, tata ruang Kasultanan Yogyakarta dapat dipahami sebagai bentuk cosmological urbanism atau urbanisme kosmologis, yaitu penataan kota yang didasarkan pada keseimbangan antara manusia, alam, dan dimensi spiritual.

GKR Bendara, menjelaskan bahwa pameran Smarabawana tidak hanya mengangkat aspek sejarah tata ruang, tetapi juga menyoroti dimensi ekologis yang terkandung dalam tradisi Jawa.

Konsep tersebut mencerminkan kearifan ekologis masyarakat Jawa yang menempatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem alam. Dalam pandangan ini, manusia tidak hanya memanfaatkan alam, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, pameran Smarabawana menghadirkan refleksi penting mengenai hubungan antara manusia dan alam yang relevan dengan tantangan lingkungan global saat ini.

Pameran temporer Smarabawana dapat dikunjungi masyarakat mulai 8 Maret hingga 26 Agustus 2026 di Kedhaton Keraton Yogyakarta setiap hari pukul 08.30 hingga 14.30 WIB.

Selain pameran fisik, Keraton Yogyakarta juga meluncurkan platform digital berupa situs resmi tourism.kratonjogja.id serta akun Instagram @kratonjogja.tourism sebagai sarana diseminasi informasi mengenai sejarah dan kebudayaan Keraton.

Langkah ini menunjukkan upaya Keraton dalam memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan budaya.

 

 

 

 

Divisi Komunikasi Publik

Badan Pelaksana Otorita Borobudur

By Published On: Jumat, 6 Maret 2026Views: 55

Share This Story, Choose Your Platform!