Kulon Progo, 31 Maret 2026 – Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) menggelar audiensi strategis bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo untuk memperkuat kolaborasi di kawasan penyangga Borobudur Highland. Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua pihak dalam membangun pariwisata yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Hadir dalam pertemuan tersebut Plt. Direktur Utama BPOB Yusuf Hartanto, Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Sutarman, Direktur Destinasi Pariwisata Neysa Amelia, serta jajaran manajemen dari kedua instansi.

Fokus pada Aksesibilitas dan Atraksi Baru

Plt. Direktur Utama BPOB, Yusuf Hartanto, memaparkan sejumlah rencana strategis untuk meningkatkan konektivitas kawasan. BPOB tengah memprioritaskan rencana pelebaran jalan jalur Pasar Plono–Nglinggo serta pembangunan jembatan guna mempermudah akses wisatawan.

Selain infrastruktur fisik, BPOB juga menawarkan kolaborasi konten melalui program BASKOM dan memperkenalkan olahraga tradisional Jemparingan sebagai atraksi budaya unggulan di Borobudur Highland.

“Kami ingin memastikan akses menuju kawasan semakin nyaman dan konten promosi kita berjalan selaras dengan potensi lokal yang ada,” ujar Yusuf.

Inisiatif Lokal dan Tantangan Sektor Pariwisata

Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Sutarman, menyambut baik sinergi ini di tengah tantangan efisiensi anggaran pemeliharaan. Dispar Kulon Progo tetap bergerak agresif dengan menyiapkan berbagai agenda internasional dan olahraga, antara lain:

  • Famtrip Internasional: Mengundang peserta dari Thailand untuk mengeksplorasi destinasi unggulan Kulon Progo.

  • Sport Tourism: Menyelenggarakan KulineRUN untuk menarik minat wisatawan minat khusus.

  • Pelestarian Budaya: Menggelar Gladhen Hageng Jemparingan sebagai ikon wisata tradisi.

Integrasi Jalur Wisata dan Mitigasi

Direktur Destinasi Pariwisata BPOB, Neysa Amelia, menekankan pentingnya menciptakan alur perjalanan (travel pattern) yang menarik. Ia mengusulkan agar wisatawan dari Bandara YIA yang menuju Borobudur Highland diarahkan untuk singgah di berbagai titik wisata di Kulon Progo.

“Kita perlu mengintegrasikan rute agar wisatawan mendapatkan pengalaman lengkap. Kami juga menawarkan paket bird watching (pengamatan burung) sebagai daya tarik wisata alam di Highland,” tambah Neysa. Selain itu, ia mengajak pemerintah daerah berkolaborasi dalam program kesiapsiagaan bencana demi menjamin keamanan destinasi.

Pengembangan Geopark sebagai Penyangga

Dalam sesi diskusi, tim Dispar Kulon Progo mengungkapkan rencana pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pengembangan Geopark di lima titik strategis. Kawasan Geopark ini akan diposisikan sebagai penyangga utama Borobudur Highland. Meski terdapat kekhawatiran terkait potensi kenaikan harga tiket pesawat akibat isu BBM, kedua belah pihak sepakat untuk mengoptimalkan pengelolaan media sosial internal dalam menjaga tren kunjungan.

Melalui audiensi ini, BPOB dan Pemkab Kulon Progo optimis bahwa koordinasi yang kuat akan mengubah kawasan penyangga Borobudur menjadi destinasi kelas dunia yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat lokal.

Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Borobudur

By Published On: Selasa, 31 Maret 2026Views: 41

Share This Story, Choose Your Platform!