Yogyakarta, Selasa 26 Mei 2026 — Menyambut momentum libur panjang (long weekend), kesiapan destinasi wisata dan konektivitas transportasi menjadi faktor utama dalam menciptakan pengalaman wisata yang aman, nyaman, dan berkesan bagi masyarakat. Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif di Radio RRI Yogyakarta yang menghadirkan para pemangku kepentingan sektor pariwisata dan transportasi.

Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur, Yusuf Hartanto, menyampaikan bahwa kesiapan destinasi wisata harus mencakup berbagai aspek mulai dari atraksi, aksesibilitas, amenitas, hingga mitigasi risiko bagi wisatawan.

“Kami memiliki objek wisata di kawasan Perbukitan Menoreh, Borobudur Highland, dengan prototipe De’Loano Glamping dan berbagai atraksi unggulan di sana,” ujar Yusuf Hartanto.

De’Loano Glamping menawarkan pengalaman wisata alam dengan fasilitas glamping di tengah rindangnya hutan pinus kawasan Menoreh. Selain menikmati suasana alam, wisatawan juga dapat mengikuti atraksi wellness tourism melalui program Moekti Diri yang dipandu instruktur profesional. Aktivitas trekking di bawah pepohonan pinus dengan udara segar juga menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

Untuk memastikan keamanan wisatawan, pengelola destinasi telah menyiapkan perlindungan asuransi bagi seluruh pengunjung, melakukan mitigasi risiko, serta berkoordinasi dengan Puskesmas Semigaluh dalam penyediaan layanan ambulans. Selain itu, petugas destinasi juga memberikan safety briefing sebelum aktivitas wisata dimulai.

 

Menurut Yusuf, tren pariwisata pascapandemi menunjukkan meningkatnya minat wisatawan terhadap wisata alam dan pengalaman yang menenangkan. Meski budaya tetap menjadi atraksi utama di Indonesia, kolaborasi antara budaya, alam, dan konten media dinilai menjadi strategi efektif dalam promosi destinasi wisata.

“Kesiapan seluruh stakeholder harus terus dipupuk. Pentahelix harus bersatu untuk mempublikasikan budaya dan potensi wisata yang kita miliki,” tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa momentum libur panjang tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata, tetapi juga memberikan efek ekonomi bagi UMKM, pelaku ekonomi kreatif, penginapan, hotel, hingga usaha kuliner dan coffee shop yang kini menjadi destinasi favorit generasi muda. Karena itu, pengelolaan ekosistem wisata, termasuk manajemen sampah, harus menjadi perhatian bersama.

Sementara itu, Head of Corporate Communication PT Railink (KAI Bandara), Sosiawan Putra Surbakti, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan kapasitas transportasi tambahan guna mengantisipasi lonjakan wisatawan menuju Yogyakarta selama long weekend.

“KAI Bandara menyiapkan 84 ribu kursi hingga 1 Juni untuk menampung masyarakat yang akan ke Yogyakarta. Dari evaluasi sebelumnya, terdapat sekitar 40 ribu orang yang datang ke Yogyakarta,” ungkap Putra.

Untuk mendukung mobilitas masyarakat, KAI Bandara mengoperasikan 50 perjalanan kereta setiap hari yang terdiri dari 26 perjalanan YIA Express dan 24 perjalanan kereta reguler. Selain itu, tersedia layanan flexi ticket dan fasilitas ruang VIP bagi penumpang yang ingin menunggu keberangkatan dengan lebih nyaman selama periode long weekend.

PT Railink juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan transportasi umum selama masa libur panjang guna mengurangi kepadatan lalu lintas dan meningkatkan keselamatan perjalanan. Menurut Putra, Yogyakarta telah memiliki konektivitas transportasi umum yang cukup baik dan terintegrasi.

“Wisatawan dihimbau melakukan perencanaan perjalanan dan memperhatikan jadwal moda transportasi umum yang tersedia. Di Stasiun Tugu juga sudah tersedia halte yang menjangkau berbagai wilayah,” jelasnya.

Melalui kesiapan destinasi wisata dan konektivitas transportasi yang optimal, diharapkan masyarakat dapat menikmati libur panjang dengan aman, nyaman, serta turut mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan keberlanjutan sektor pariwisata di Yogyakarta dan kawasan Borobudur.

 

 

 

Divisi Komunikasi Publik

Badan Pelaksana Otorita Borobudur

By Published On: Selasa, 26 Mei 2026Views: 58

Share This Story, Choose Your Platform!