Sleman, 9 Juni 2026 — Di tengah berkembangnya berbagai konsep desa wisata berbasis budaya, alam, dan pertanian, Desa Wisata Batur Berdikari (Dewi Batari) di Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, mulai memperkenalkan konsep yang masih terbilang baru di Indonesia, yakni desa wisata karbon. Gagasan tersebut mengemuka dalam seminar dan diskusi bertajuk “Membangun Desa Wisata Karbon: Dari Konservasi Anggrek hingga Peluang Ekonomi Karbon Berbasis Masyarakat”. Diselenggarakan oleh Pusat Studi Desa, Ekonomi, dan Pariwisata (PUSDEWI) STIE Pariwisata API Yogyakarta bekerja sama dengan Desa Wisata Betari Kepuharjo di Joglo Dewi Betari, Selasa (9/6).

Kegiatan ini mempertemukan akademisi, pemerintah, pengelola desa wisata, serta komunitas lingkungan untuk membahas peluang pengembangan desa wisata yang mengintegrasikan konservasi lingkungan, ekonomi karbon, dan pembangunan berkelanjutan.

Dosen STIE Pariwisata API Yogyakarta, Setiawan Priatmoko, menilai bahwa inisiatif ini menjadi langkah penting dalam pengembangan pariwisata masa depan.

“Kita akan menjadi bagian dari sejarah, karena ketika semua orang bicara desa wisata pertanian atau desa wisata budaya, kita adalah yang paling awal yang membicarakan isu karbon. Mari kita sama-sama saling belajar,” ungkapnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Destinasi Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), Neysa Amelia. Ia mengapresiasi lahirnya gagasan desa wisata karbon yang dinilai mampu membuka perspektif baru dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan.

“Semoga kita bisa berkontribusi dan bekerja sama untuk membangkitkan Desa Wisata Betari serta menambah pengalaman dari segi pariwisata. Saya juga senang mengikuti agenda ini karena ada sesuatu yang baru. Desa wisata berbasis karbon memang belum banyak diketahui masyarakat,” ujar Neysa.

Mengenal Desa Wisata Karbon

Konsep desa wisata karbon merupakan pengembangan destinasi yang tidak hanya berfokus pada kunjungan wisata, tetapi juga pada upaya pengurangan emisi karbon, pelestarian lingkungan, serta penciptaan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

Dalam praktiknya, desa wisata karbon dapat dikembangkan melalui kegiatan konservasi hutan, penanaman pohon, pelestarian tanaman langka, pengelolaan sampah berkelanjutan, penggunaan energi ramah lingkungan, hingga edukasi lingkungan bagi wisatawan. Desa Wisata Betari menawarkan paket untuk adopsi pohon dan anggrek bagi wisatawan.

Konsep desa wisata karbon berkaitan erat dengan jejak karbon (carbon footprint), yaitu jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia, seperti transportasi, konsumsi energi, dan kegiatan ekonomi lainnya. Melalui berbagai program konservasi dan pelestarian lingkungan, desa wisata berpotensi membantu menyerap emisi karbon sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru melalui skema ekonomi hijau dan perdagangan karbon (carbon trading).

Dalam seminar tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi terkait konservasi tanaman langka dan peluang carbon trading bagi masyarakat desa, pengembangan produk wisata Desa Kepuharjo, hingga strategi menghadirkan element of surprise dalam destinasi wisata.

Berawal dari Konservasi Anggrek Nusantara

Perjalanan Desa Wisata Batur Berdikari berakar dari kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekonomi warga. Desa ini awalnya berkembang melalui kerja sama masyarakat dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam program penangkaran dan penyelamatan tumbuhan langka Indonesia.

Selain faktor lingkungan, pengembangan desa wisata juga dilatarbelakangi keprihatinan terhadap ketergantungan masyarakat pada aktivitas penambangan pasir yang dinilai tidak berkelanjutan. Desa wisata kemudian dipersiapkan sebagai alternatif sumber mata pencaharian jangka panjang bagi warga.

Saat ini, Dewi Batari mengembangkan berbagai kegiatan konservasi anggrek sekaligus menawarkan wisata budaya seperti jemparingan, bregada, macapat, dan kesenian sruntul.

Melalui pengembangan konsep desa wisata karbon, Dewi Batari berharap tidak hanya menjadi destinasi wisata yang menarik, tetapi juga menjadi contoh bagaimana pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pembangunan pariwisata yang berkelanjutan

 

 

Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Borobudur

 

Klik, follow & subscribe website & medsos kami 👇🏻

Website https://bob.kemenpar.go.id/
Instagram @boborobudur
Twitter/X @BOBorobudur
Tiktok @boborobudur
Facebook Badan Otorita Borobudur
Youtube BOBorobudur

By Published On: Selasa, 9 Juni 2026Views: 48

Share This Story, Choose Your Platform!