Solo, 4 September 2026 — Kemegahan budaya Nusantara kembali terpancar melalui penyelenggaraan Festival Payung Indonesia (FESPIN) XIII 2026. Secara resmi dibuka pada Jumat, 4 September 2026, ajang bertaraf internasional ini mengambil tempat di Kawasan Cagar Budaya Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah, dan akan berlangsung hingga 6 September 2026. Mengusung tema besar bertajuk “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”, perhelatan akbar tahun ini memfokuskan esensi padi sebagai simbol filosofis kemakmuran, kesuburan, kelestarian ekologis, serta keharmonisan hubungan antara manusia dan alam semesta.
Sebagai salah satu agenda pariwisata unggulan nasional, FESPIN XIII 2026 mencatatkan skala partisipasi yang luar biasa. Tercatat sekitar 5.000 karya payung tradisi dan kontemporer dipamerkan kepada publik, melibatkan tidak kurang dari 3.000 seniman, perajin, serta artisan yang tergabung dalam 150 grup seni dari berbagai penjuru tanah air. Tidak berhenti pada lingkup domestik, gaung festival ini juga menarik perhatian dunia internasional dengan hadirnya delegasi seni dan budaya dari sejumlah negara sahabat, di antaranya Thailand, Jepang, Korea Selatan, India, dan Pakistan.
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi penyelenggaraan festival yang telah menjadi identitas kultural Kota Solo. Pemerintah Kota Solo berkomitmen untuk terus memberikan ruang seluas-luasnya bagi pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis warisan budaya leluhur.
“Festival Payung Indonesia bukan sekadar perayaan estetika visual, melainkan motor penggerak ekosistem ekonomi kreatif dan pariwisata daerah. Kehadiran ribuan seniman dari berbagai penjuru dunia di Taman Balekambang menegaskan posisi Solo sebagai episentrum kebudayaan yang adaptif, dinamis, dan senantiasa merawat warisan tradisi dengan pendekatan kolaboratif,” ujar Astrid Widayani dalam sambutannya di Solo, Jumat (4/9).
Penyelenggaraan selama tiga hari ini menyuguhkan berbagai mata acara yang edukatif sekaligus menghibur. Pengunjung disuguhkan Parade Payung Nusantara yang memukau, pertunjukan seni lintas budaya, pasar festival yang melibatkan UMKM lokal, hingga sajian kuliner tradisional. Daya tarik utama yang konsisten memikat pengunjung adalah ruang interaksi langsung antara masyarakat dengan para maestro perajin payung. Pengunjung dapat menyaksikan secara dekat proses kreatif pembuatan payung tradisional, sebuah transfer pengetahuan kultural yang esensial untuk menjaga keberlanjutan regenerasi artisan di masa depan.
Momentum pembukaan FESPIN XIII 2026 semakin istimewa dengan diraihnya penghargaan bergengsi tingkat nasional. Festival ini secara resmi dinobatkan sebagai Top 3 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, sebuah pengakuan atas kualitas kurasi, dampak ekonomi, serta konsistensi penyelenggaraan event pariwisata nusantara.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Asisten Deputi Strategi Event Kementerian Pariwisata, Raden Wisnu Sindhutrisno, kepada Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, yang kemudian diteruskan kepada Founder Festival Payung Indonesia, Heru Mataya.

Dalam keterangannya, Raden Wisnu Sindhutrisno menegaskan bahwa keberhasilan FESPIN masuk dalam jajaran elit Kharisma Event Nusantara membuktikan bahwa event berbasis tradisi lokal memiliki daya saing tinggi di kancah nasional maupun global.
“Kementerian Pariwisata senantiasa mendorong penyelenggaraan event yang berkualitas tinggi seperti FESPIN XIII 2026 ini. Kurasi yang ketat dalam program Kharisma Event Nusantara bertujuan untuk memastikan bahwa setiap event mampu memberikan multiplier effect yang nyata, baik dalam pelestarian kebudayaan, peningkatan pergerakan wisatawan nusantara, maupun penguatan kesejahteraan masyarakat lokal melalui sektor pariwisata,” jelas Raden Wisnu Sindhutrisno.
Sementara itu, Founder Festival Payung Indonesia, Heru Mataya, mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan lintas sektoral yang terus mengalir selama tiga belas tahun perjalanan festival ini. Menurutnya, payung tradisi telah bertransformasi dari sekadar alat pelindung fungsional menjadi medium diplomasi budaya, ruang ekspresi artistik, dan pemersatu lintas komunitas global.
“Perjalanan tiga belas tahun FESPIN membuktikan bahwa seni tradisi memiliki daya hidup yang kuat apabila dikelola dengan semangat kolaborasi dan inovasi. Melalui tema Catra Padi tahun ini, kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali merenungkan filosofi kesuburan dan ketahanan budaya yang diwariskan oleh para leluhur, sekaligus membuka ruang seluas-luasnya bagi para seniman muda untuk berekspresi,” tutur Heru Mataya.

Pemerintah melalui Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BOB) melihat sinergi seperti yang terjalin dalam FESPIN XIII 2026 sebagai pilar strategis dalam memperkuat ekosistem pariwisata budaya di kawasan penyangga pariwisata nasional. Keterpaduan antara seni tradisi, pelestarian lingkungan, dan keterlibatan aktif masyarakat lokal menjadi cetak biru penting bagi kebangkitan pariwisata berkelanjutan di Indonesia.
Melalui penyelenggaraan FESPIN XIII 2026 di Taman Balekambang Solo, diharapkan citra pariwisata Indonesia semakin menguat di mata dunia, mengukuhkan tradisi lokal sebagai kekuatan utama dalam membangun peradaban pariwisata yang inklusif, bermartabat, dan berdaya saing global.
Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Borobudur
Klik, follow & subscribe website & medsos kami👇🏻
Website https://bob.kemenpar.go.id/
Instagram @boborobudur
Twitter/X @BOBorobudur
Tiktok @boborobudur
Facebook Badan Otorita Borobudur
Youtube BOBorobudur
