Yogyakarta, 20 April 2026 – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana di kawasan wisata terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana, Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) menggelar Rapat Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat yang berfokus pada penguatan aspek safety and security di kawasan wisata Pantai Parangtritis.
Kegiatan yang berlangsung di ruang Borobudur Highland ini merupakan tindak lanjut dari Forum Manajemen Destinasi yang sebelumnya telah dilaksanakan pada 28 November 2025. Rapat koordinasi ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat tata kelola destinasi pariwisata yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga aman dan tangguh terhadap potensi bencana.
Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Pantai Parangtritis dikenal memiliki daya tarik yang tinggi bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, tingginya angka kunjungan, terutama pada periode libur panjang seperti Tahun Baru, Idulfitri, dan libur sekolah, juga membawa konsekuensi meningkatnya risiko kecelakaan laut.
Melalui kegiatan ini, BPOB bersama para pemangku kepentingan berupaya membangun kapasitas masyarakat lokal dan stakeholder terkait agar lebih siap dalam menghadapi potensi risiko bencana. Rapat ini juga menjadi ruang diskusi strategis untuk memperkuat sinergi antara berbagai pihak, termasuk BPBD DIY, Ditpamobvit Polda DIY, PMI DIY, serta Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di kawasan Pantai Parangtritis.
Direktur Destinasi Pariwisata BPOB, Neysa Amelia, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari langkah berkelanjutan dalam memperkuat tata kelola destinasi berbasis mitigasi bencana.
“Rapat koordinasi ini adalah langkah lanjutan pascaworkshop Tata Kelola Destinasi. Kami melihat ada lima topik utama yang bisa dikolaborasikan bersama, dengan fokus wilayah pada Pantai Parangtritis dan Perbukitan Menoreh. Salah satu rencana awal yang akan dilakukan adalah simulasi bersama untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan stakeholder,” ujar Neysa.

Menurutnya, pendekatan kolaboratif menjadi kunci dalam menciptakan destinasi wisata yang aman dan berkelanjutan. Tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga melibatkan masyarakat lokal sebagai garda terdepan dalam penanganan situasi darurat.
Dalam diskusi yang berlangsung dinamis, perwakilan Ditpamobvit Polda DIY menyoroti pentingnya penataan komunitas lokal di kawasan Pantai Parangtritis. Hal ini dinilai krusial mengingat masih tingginya angka kecelakaan laut yang terjadi, terutama saat lonjakan kunjungan wisatawan.
Penataan komunitas diharapkan mampu mempercepat respons terhadap kondisi darurat, sehingga penanganan kecelakaan dapat dilakukan secara lebih efektif dan terkoordinasi. Selain itu, edukasi kepada wisatawan juga menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan, mengingat keterbatasan jumlah petugas di lapangan.
Sementara itu, dukungan penuh juga disampaikan oleh PMI DIY yang melihat momentum Hari Kesiapsiagaan Bencana serta peringatan 20 tahun gempa DIY sebagai peluang strategis untuk memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya mitigasi bencana. Sinergi program pemberdayaan masyarakat dengan agenda peringatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam upaya kesiapsiagaan.
Dari sisi kebijakan dan sistem, BPBD DIY mengusulkan inovasi edukasi berbasis digital sebagai langkah adaptif terhadap perkembangan teknologi. Salah satu gagasan yang mencuat adalah penggunaan barcode di pintu masuk kawasan wisata, yang dapat dipindai oleh pengunjung untuk mengakses informasi darurat, peta evakuasi, serta prosedur keselamatan secara cepat dan mudah.
Selain itu, BPBD DIY juga mengingatkan bahwa setiap tanggal 26 dilakukan pembunyian sirine sebagai tanda kesiapsiagaan tsunami. Hal ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat, khususnya di wilayah pesisir.
Tidak kalah penting, aspek infrastruktur juga menjadi perhatian dalam rapat koordinasi ini. Penyediaan rambu keselamatan, penguatan tim SAR, hingga optimalisasi sistem peringatan dini menjadi bagian dari implementasi unsur “aman” dalam Sapta Pesona pariwisata.
Langkah-langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahwa wisatawan tidak hanya mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga merasa aman selama berada di destinasi wisata.
Melalui rapat koordinasi ini, seluruh pihak sepakat bahwa penguatan kapasitas masyarakat menjadi fondasi utama dalam menciptakan destinasi wisata yang tangguh terhadap bencana. Program pemberdayaan masyarakat yang dirancang diharapkan mampu meningkatkan kesadaran, kesiapsiagaan, serta kemampuan respon terhadap situasi darurat.
Lebih jauh, kolaborasi lintas sektor yang terbangun dalam forum ini diharapkan tidak berhenti pada tahap perencanaan, tetapi juga dapat diimplementasikan secara nyata di lapangan. Simulasi bersama, edukasi berkelanjutan, serta penguatan sistem informasi menjadi langkah strategis yang akan terus didorong ke depan.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat, kawasan Pantai Parangtritis diharapkan dapat menjadi contoh destinasi wisata yang tidak hanya unggul dari sisi daya tarik, tetapi juga tangguh dalam menghadapi berbagai potensi risiko bencana.
Upaya ini sekaligus menegaskan komitmen bersama dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Yogyakarta—pariwisata yang aman, nyaman, dan memberikan rasa tenang bagi setiap wisatawan yang berkunjung.
Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Borobudur
