Bantul, 27 April 2026 — Badan Pelaksana Otorita Borobudur bersama sejumlah instansi terkait melaksanakan survei lapangan sebagai bagian dari persiapan kegiatan simulasi tata kelola destinasi wisata berbasis mitigasi bencana di kawasan Pantai Parangtritis.
Kegiatan yang berlangsung pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB ini merupakan tindak lanjut dari peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana, sekaligus menjadi bagian dari implementasi kebijakan pariwisata berkualitas yang menempatkan aspek keamanan, keselamatan, dan kenyamanan sebagai prioritas utama dalam pengelolaan destinasi.
Survei ini menjadi langkah awal dalam merancang simulasi mitigasi bencana yang akan dilaksanakan pada 26 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperkuat kesiapsiagaan destinasi dalam menghadapi potensi bencana alam, khususnya gempa bumi dan tsunami yang berisiko terjadi di kawasan pesisir selatan.
Direktur Destinasi Pariwisata BPOB, Neysa Amelia, menegaskan bahwa pengelolaan destinasi wisata harus dilakukan secara komprehensif, tidak hanya berorientasi pada daya tarik wisata, tetapi juga pada aspek keselamatan bagi seluruh pengunjung.
“Melalui survei ini, kami ingin memastikan kesiapan destinasi dalam menghadapi kondisi darurat, termasuk bagaimana wisatawan dapat memperoleh informasi yang jelas serta akses evakuasi yang cepat dan tepat saat terjadi bencana,” ujarnya.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, di antaranya BPBD DIY, PMI, Polda DIY, serta Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bantul. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci dalam menciptakan sistem penanggulangan bencana yang terintegrasi dan responsif di kawasan wisata.
Pantai Parangtritis dipilih sebagai lokasi prioritas karena memiliki tingkat kerawanan terhadap potensi megathrust dan tsunami serta tingginya intensitas kunjungan wisatawan, terutama pada musim liburan. Kondisi ini menuntut adanya skenario mitigasi yang tidak hanya berfokus pada masyarakat lokal, tetapi juga memperhitungkan keberadaan wisatawan dari berbagai latar belakang.
Selama ini, simulasi kebencanaan di kawasan tersebut telah melibatkan masyarakat dan pelaku usaha setempat. Namun, skenario yang secara khusus menyasar wisatawan masih belum optimal. Oleh karena itu, survei ini difokuskan untuk mengidentifikasi kebutuhan di lapangan, seperti kesiapan jalur evakuasi, titik kumpul, sistem informasi, serta pola koordinasi antar stakeholder.
Perwakilan Forum Kebencanaan menyampaikan bahwa infrastruktur dasar seperti rambu evakuasi telah tersedia, namun tantangan terbesar terletak pada implementasi saat kondisi padat wisatawan. Sementara itu, pihak kepolisian menambahkan bahwa aspek keamanan akan diperkuat melalui keterlibatan personel serta dukungan tim SAR dalam skenario simulasi.

Ke depan, hasil survei ini akan menjadi dasar penyusunan simulasi yang lebih komprehensif dan inklusif. Selain itu, kolaborasi antar pihak juga akan terus diperkuat melalui monitoring dan evaluasi berkala guna memastikan kesiapsiagaan tetap terjaga.
Dengan penguatan manajemen destinasi yang terintegrasi, BPOB optimistis kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta dapat semakin berkembang sebagai destinasi wisata yang aman, nyaman, dan berdaya saing, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Borobudur
