Yogyakarta, 25 Februari 2026 – Kawasan Kampung Ketandan malam itu (25/2) tak hanya riuh oleh suara tambur, tapi juga hangat oleh semangat persaudaraan. Di bawah rintik hujan yang sejuk, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke-21 resmi dibuka, menandai momen istimewa di mana perayaan Imlek 2577 bersandingan dengan suasana suci bulan Ramadan 1447 H.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang hadir membuka acara, menyebut momen ini bukan sekadar pesta seni. Bagi Sultan, PBTY adalah “ruang batin” di mana perbedaan etnis dan keyakinan melebur dalam rasa saling menghargai.

“Budaya adalah cara kita merawat toleransi. Di tengah keberagaman, nilai Tionghoa dan Jawa mengajarkan kita satu hal penting: keseimbangan antara keberanian melangkah dan kebijaksanaan dalam bertindak,” tutur Sultan saat memberikan sambutan.

Energi Kuda Api dan Harapan Baru

Tahun ini, PBTY mengusung simbol Kuda Api. Sebuah perlambang energi besar untuk berubah. Namun, Sultan mengingatkan agar semangat “api” tersebut tetap dijaga dengan kepala dingin agar membawa manfaat bagi masyarakat luas, bukan sekadar ambisi pribadi.

Keseruan pembukaan tak surut meski gerimis mengguyur. Warga tetap bergeming menyaksikan liukan Barongsai dan Lion Dance yang memukau. Ketandan kembali membuktikan dirinya sebagai jantung akulturasi, tempat di mana aroma kuliner khas Tionghoa bersatu dengan keramahan khas Yogyakarta.

Lebih dari Sekadar Perayaan

Ketua Umum Panitia, Jimmy Sutanto, menjelaskan bahwa selama tujuh hari (25 Februari – 3 Maret 2026), Ketandan akan menjadi rumah bagi 120 pelaku UMKM.
“Kami ingin ekonomi rakyat juga ikut bergerak. Ada kuliner, kerajinan, hingga produk kreatif yang bisa dinikmati siapa saja. Ini adalah ruang perjumpaan bagi kita semua,” ujar Jimmy.

Puncak acara ditandai dengan tabuhan tambur oleh Sri Sultan bersama tokoh masyarakat dan perwakilan Konsulat Jenderal RRT. Suasana semakin hangat dengan kehadiran tokoh-tokoh lintas komunitas yang mempertegas bahwa di Yogyakarta, keberagaman adalah anugerah, bukan pemisah.

Selama sepekan ke depan, warga dan wisatawan diundang untuk menyesap kekayaan budaya Tionghoa, berburu kuliner, hingga menyaksikan pameran seni yang edukatif. PBTY ke-21 bukan lagi sekadar agenda tahunan, melainkan pengingat bahwa harmoni itu nyata dan bisa dirayakan bersama.

 

 

 

Divisi Komunikasi Publik

Badan Pelaksana Otorita Borobudur

By Published On: Kamis, 26 Februari 2026Views: 158

Share This Story, Choose Your Platform!