Purworejo, 21 April 2026 — Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) terus mendorong pengembangan birdwatching sebagai atraksi unggulan berbasis konservasi alam dan ekowisata berkelanjutan. Melalui kegiatan Pelatihan Guide Birdwatching yang berlangsung di De’Loano Glamping, Borobudur Highland, BPOB memperkuat kapasitas sumber daya manusia sekaligus menegaskan komitmen dalam menjaga keanekaragaman hayati.
Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi strategis bersama Yayasan SwaraOwa yang berfokus pada konservasi, serta melibatkan para pemangku kepentingan pariwisata. Pelatihan ini mencakup materi teknik pengamatan burung, simulasi lapangan, hingga penguatan konsep avioturisme sebagai bagian dari ekowisata yang menggabungkan aspek edukasi, konservasi, dan nilai ekonomi.
Indonesia sendiri memiliki lebih dari 1.800 spesies burung dengan lebih dari 500 spesies endemik, menjadikannya salah satu negara dengan kekayaan avifauna terbesar di dunia. Namun, tantangan berupa degradasi populasi burung akibat aktivitas manusia menjadikan pendekatan ekowisata seperti birdwatching sebagai solusi yang relevan.

Direktur Destinasi Pariwisata BPOB, Neysa Amelia, menegaskan bahwa pengembangan birdwatching bukan hanya tentang menciptakan atraksi wisata, tetapi juga membangun kesadaran konservasi.
“Pengembangan birdwatching di Borobudur Highland kami arahkan sebagai atraksi wisata berbasis konservasi alam yang memberikan pengalaman edukatif bagi wisatawan. Kami ingin menghadirkan keseimbangan antara pelestarian keanekaragaman hayati dan peningkatan nilai ekonomi kawasan”, ujar Neysa.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari berbagai aspek penting seperti teknik identifikasi burung melalui bentuk, warna, suara, hingga perilaku, serta penggunaan alat seperti teropong binocular dan monocular. Simulasi lapangan juga dilakukan untuk memperkuat kemampuan pemandu dalam menghadirkan pengalaman birdwatching yang berkualitas.
Selain itu, pengembangan ekosistem pendukung menjadi fokus utama, seperti penanaman vegetasi penghasil pakan alami (nektar, buah, dan tanaman yang menarik serangga) serta pembangunan fasilitas buatan seperti feeding station dan kubangan air untuk menarik burung, terutama di musim kemarau.
Plt. Direktur Utama BPOB, Yusuf Hartanto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini sekaligus menekankan pentingnya inovasi dalam pengembangan destinasi.

“Pengembangan atraksi birdwatching di Borobudur Highland merupakan langkah pionir yang membutuhkan komitmen dan kolaborasi. Kami optimistis atraksi ini tidak hanya memberikan pengalaman unik bagi wisatawan, tetapi juga berkontribusi pada upaya konservasi alam secara berkelanjutan,” ungkap Yusuf.
Ke depan, BPOB akan terus menajamkan konsep birdwatching, termasuk pengembangan wisata pengamatan burung nokturnal yang didukung oleh fasilitas akomodasi seperti De’Loano Glamping. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat posisi Borobudur Highland sebagai destinasi ekowisata unggulan yang mengedepankan keberlanjutan dan pelestarian lingkungan.
Dengan pendekatan yang terintegrasi antara birdwatching, konservasi alam, dan pemberdayaan masyarakat, BPOB optimistis dapat menciptakan model pariwisata yang tidak hanya menarik secara pengalaman, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan dan ekonomi lokal.
Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Borobudur
