Surakarta, 19 Juli 2026 – Pagelaran musik budaya bergengsi, Solo Keroncong Festival (SKF) 2026, kembali digelar dengan megah dan membawa semangat baru dalam menyuarakan pelestarian serta inovasi seni tradisi Nusantara. Mengusung tema besar “Keroncong Pusaka Nusantara” dengan penataan konsep visual dan musikal “Keroncong Majestic”, festival ini diperkuat melalui tagline “Memayu Hayuning Keroncong”. Perhelatan tahunan yang dinanti jutaan pencinta musik tradisi ini dilangsungkan secara meriah pada 18–19 Juli 2026 berlokasi di ikon sejarah Jawa, Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta.

Tahun 2026 menjadi penanda milestone amat bersejarah bagi perjalanan panjang festival tersebut. Setelah berturut-turut selama empat tahun (2022–2025) tercatat dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN), tahun ini Solo Keroncong Festival berhasil menorehkan prestasi tertinggi dengan masuk ke dalam jajaran Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang dikurasi langsung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Pengakuan ini semakin mengukuhkan Surakarta sebagai episentrum sekaligus benteng pertahanan regenerasi musik keroncong di Tanah Air.

Menteri Pariwisata Republik Indonesia, dalam keterangannya menyambut pencapaian tinggi ini, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang mendalam terhadap konsistensi seluruh elemen di Kota Surakarta.

“Keberhasilan Solo Keroncong Festival menembus Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 merupakan bukti nyata bahwa event pariwisata berbasis tradisi lokal memiliki daya saing yang sangat tinggi. Keroncong bukan hanya aset warisan masa lalu, melainkan komoditas ekonomi kreatif dan alat diplomasi budaya yang sangat berharga bagi pariwisata Indonesia di mata dunia,” ujar Menteri Pariwisata RI.

Festival yang telah memasuki usia penyelenggaraan ke-20 ini secara khusus memadukan keagungan budaya keraton dengan sentuhan eksplorasi kontemporer. Konsep “Keroncong Majestic” dihadirkan untuk memberikan pengalaman kebudayaan yang megah, tanpa sedikit pun menghilangkan akar tradisi keroncong yang otentik.

Mewakili Menteri Pariwisata Republik Indonesia pada pembukaan acara, Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), Yusuf Hartanto, menegaskan bahwa keberlanjutan Solo Keroncong Festival menjadi contoh ideal sinergi antara pelestarian nilai-nilai luhur dan penguatan industri pariwisata kawasan.

“Solo Keroncong Festival diselenggarakan secara konsisten sebagai ruang pelestarian dan regenerasi musik keroncong. Festival ini turut memperkuat posisi Surakarta sebagai pusat kreativitas dan regenerasi musik keroncong nasional, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan pariwisata berbasis budaya,” ungkap Yusuf Hartanto. 

 

Ia menambahkan, keterlibatan aktif Badan Pelaksana Otorita Borobudur dalam mendukung event ini adalah bagian dari strategi integrasi destinasi pariwisata prioritas di wilayah Solo-Sangihe-Borobudur (Joglosemar), sehingga pertumbuhan wisatawan dapat terdistribusi secara inklusif.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono, menekankan pentingnya festival ini sebagai wadah keberlanjutan ekosistem musik lokal. Menurutnya, SKF diciptakan untuk menjaga agar alat musik seperti cempo, cak, cuk, dan bas bernyawa panjang di tangan generasi muda.

“Solo Keroncong Festival sejak pertama kali digelar pada tahun 2009 terus konsisten menjadi wadah pelestarian dan pengembangan musik keroncong. Tahun 2026 ini SKF hadir sebagai bentuk upaya menjaga keroncong sebagai warisan budaya yang terus berkembang dan mampu memberikan kontribusi bagi pariwisata serta ekonomi kreatif,” paparnya.

Penyelenggaraan SKF 2026 turut diramaikan oleh deretan musisi papan atas serta maestro keroncong papan atas lintas negara. Nama-nama legendaris seperti Tuti Maryati, Iga Mawarni, hingga virtuoso biola Hendri Lamiri tampil memukau panggung Keroncong Majestic. Kehadiran penyanyi mancanegara Rosita Rohaizad asal Malaysia turut membuktikan bahwa keroncong memiliki daya tarik lintas batas negara. Tak ketinggalan, puluhan komunitas keroncong anak muda dari berbagai pelosok Nusantara ikut ambil bagian memamerkan aransemen keroncong modern.

Selain menyajikan panggung musik kelas wahid, Solo Keroncong Festival 2026 juga berfungsi sebagai platform kolaboratif yang inklusif. Festival ini mempertemukan akademisi seni, peneliti budaya, pegiat ekonomi kreatif, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Keberadaan stan kuliner tradisional, crafting, dan merchandise budaya di area Alun-alun Utara terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat Surakarta selama acara berlangsung.

Melalui sinergi erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPOB, komunitas seni, dan masyarakat luas, Solo Keroncong Festival 2026 membuktikan bahwa warisan musik Nusantara mampu terus bertransformasi, tampil memikat di era modern, serta menjadi pilar utama pariwisata budaya Indonesia yang berkelanjutan.

 

Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Borobudur

 

Klik, follow & subscribe website & medsos kami👇🏻

Website https://bob.kemenpar.go.id/
Instagram @boborobudur
Twitter/X @BOBorobudur
Tiktok @boborobudur
Facebook Badan Otorita Borobudur
Youtube BOBorobudur

By Published On: Senin, 20 Juli 2026Views: 52

Share This Story, Choose Your Platform!