Sukoharjo, 30 September 2026 – Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) secara resmi memperkuat komitmen strategisnya dalam mendorong generasi muda Indonesia untuk mengambil peran sentral sebagai motor penggerak pembangunan sektor pariwisata nasional. Transformasi ini ditekankan melalui penguasaan inovasi berbasis digital, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta penerapan prinsip keberlanjutan sustainability demi menghadapi tantangan global industri pariwisata modern.

Pesan visioner tersebut disampaikan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama BPOB, Yusuf Hartanto, di hadapan ratusan mahasiswa baru dalam acara Kuliah Umum Fakultas Ilmu Terapan dan Humaniora Universitas Sugeng Hartono, Sukoharjo, yang diselenggarakan pada Rabu (30/9/2026). Kegiatan akademik berskala nasional ini mengangkat tema besar bertajuk “Future-Ready Generation: Innovation, Collaboration, and Sustainability for Indonesia’s Tourism Future”.

Hadir dalam forum strategis tersebut jajaran civitas akademika, pimpinan fakultas, serta mahasiswa baru dari berbagai program studi unggulan, meliputi S1 Teknologi Pangan, S1 Gizi, S1 Bahasa dan Kebudayaan Inggris, serta S1 Pariwisata. Kuliah umum ini dirancang secara khusus sebagai ruang diseminasi pengetahuan lintas disiplin ilmu, guna menjembatani kompetensi akademik mahasiswa dengan realitas kebutuhan nyata di lapangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif.

Integrasi Ekosistem Pariwisata dan Peran Strategis Akademisi

Dalam sesi pemaparan materi utama, Yusuf Hartanto menegaskan bahwa sektor pariwisata kontemporer tidak lagi dapat dipahami secara parsial, melainkan sebagai sebuah ekosistem makro yang sangat kompleks dan saling terhubung. Pembangunan sebuah destinasi pariwisata yang unggul dan berdaya saing global tidak hanya bertumpu pada keindahan daya tarik wisata alam atau buatan semata, melainkan sangat dipengaruhi oleh variabel pendukung lainnya.

Variabel krusial tersebut mencakup ketersediaan aksesibilitas infrastruktur yang memadai, amenitas berkualitas tinggi, standar pelayanan prima, faktor keamanan, kelestarian budaya lokal, penetrasi teknologi informasi, pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta partisipasi aktif masyarakat lokal. Kompleksitas ini menuntut adanya ekosistem kolaborasi yang solid dan terintegrasi antara pemerintah pusat dan daerah, pelaku industri pariwisata, institusi perguruan tinggi, komunitas masyarakat, serta para wisatawan itu sendiri.

“Generasi muda memiliki ruang yang sangat besar untuk berkontribusi nyata dalam pembangunan pariwisata melalui kreativitas tanpa batas, adopsi teknologi mutakhir, dan inovasi produk. Kolaborasi lintas sektor dan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan harus menjadi DNA penting dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang berkualitas, bernilai tambah tinggi, serta memberikan dampak kesejahteraan yang luas bagi masyarakat,” ungkap Yusuf.

Menyongsong Tren Pariwisata Global Berbasis Digital dan Berkelanjutan

Lebih lanjut, materi kuliah umum juga membedah secara mendalam peta jalan tren pariwisata global di masa depan. Perubahan perilaku wisatawan pascapandemi menunjukkan pergeseran signifikan menuju pola perjalanan yang lebih berkualitas quality tourism, pemanfaatan ekosistem digital secara maksimal digital tourism, tren pemulihan kesehatan dan kebugaran wellness tourism, komitmen pelestarian lingkungan sustainable tourism, hingga pencarian pengalaman otentik yang mendalam experience-based tourism.

Perkembangan tren global yang sangat dinamis ini tentu harus diimbangi secara proporsional dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Generasi muda dituntut untuk secara proaktif menguasai literasi digital, mengasah kreativitas, menumbuhkan jiwa kewirausahaan entrepreneurship, memperkuat kemampuan kerja sama tim, serta memiliki pola pikir jangka panjang yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan yang sama, para mahasiswa juga mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai mandat dan fungsi strategis BPOB dalam mengorkestrasi pembangunan pariwisata. BPOB menjalankan dua fungsi utama yang saling melengkapi, yaitu fungsi koordinatif dan fungsi otoritatif.

Melalui fungsi koordinatif, BPOB bertindak sebagai fasilitator dan motor sinkronisasi pengembangan kawasan pada tiga Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) prioritas, yakni kawasan Borobudur–Yogyakarta dan sekitarnya, Solo–Sangiran dan sekitarnya, serta Semarang–Karimunjawa dan sekitarnya. Sementara itu, melalui fungsi otoritatif, BPOB memegang kendali penuh atas perencanaan, pengembangan, pembangunan, pengelolaan, serta pengendalian kawasan otoritatif secara profesional dan terukur.

Melalui penyelenggaraan kuliah umum ini, sinergi berkelanjutan antara BPOB dan institusi perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi katalisator dalam memperluas wawasan intelektual mahasiswa. Langkah ini diyakini tidak hanya akan memperkuat kesiapan mereka dalam menghadapi dunia kerja, tetapi juga melahirkan generasi pemimpin masa depan sektor pariwisata Indonesia yang adaptif, inovatif, berdaya saing global, dan senantiasa menjunjung tinggi prinsip-prinsip pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Borobudur

Klik, follow & subscribe website & medsos kami👇🏻

Website https://bob.kemenpar.go.id/
Instagram @boborobudur
Twitter/X @BOBorobudur
Tiktok @boborobudur
Facebook Badan Otorita Borobudur
Youtube BOBorobudur

By Published On: Rabu, 30 September 2026Views: 56

Share This Story, Choose Your Platform!